Jumat, 30 Juli 2021

Taman Laut Penari, Destinasi Selam Masa Depan Tanjung Benoa Bali


Travelingkuy88 - Dalam sergapan pandemi, Bali tetap membangun harapan, menciptakan karya monumental masa depan, sebuah taman terumbu karang, taman para penari.

Bali tetaplah Bali, terasa magisnya, damai, meskipun senyap karena pandemi. Saya tercenung membatin mungkin Dewa penjaga semesta sedang bekerja tanpa riuh, menata alam, mewarnai terumbu karang menyiapkan sambutan buat para pelancong yang lelah karena pandemi. Pandemi COVID-19 secara tragis memang menghentikan gerak para wisatawan dan memporak-porandakan impian penyedia hiburan.

Walaupun demikian, ganasnya wabah ini tidak juga menggerus harapan, bahwa kita akan melewatinya dan situasi akan kembali "normal." Kita akan perlahan mulai membuka catatan pelesiran yang selama ini kita endapkan di tumpukan rencana paling bawah selama wabah mengerikan itu merebak.

Kita perlu siap-siap untuk terkejut, bahwa dua tahun lebih mengalami hibernasi vakansi, kita akan menjumpai perubahan-perubahan di sekeliling. Mulai dari kebiasaan berinteraksi hingga fasilitas.

Bisa saja dulunya ada abang gerobak cilok di Pantai Sanur namun tidak tampak lagi setelah pandemi. Atau dulunya hotel favorit kita di Bali misalnya sudah berganti papan karena tidak sanggup bertahan tergulung dampak dari wabah.

Pandemi kenyataannya membuat semua berbenah. Seperti keterkejutan atas yang hilang, kita juga akan dibuat takjub dengan munculnya warna baru pada terumbu karang - karang meja yang dulunya hanya selebar piring, menjelma selayaknya meja bundar bertumpuk, cantik - ikan di laut sepertinya juga lebih banyak dan membesar, laut tampak biru dengan jarak pandang di bawah begitu jauh dan jernih. Iya, bukan hanya kita tapi alam juga berbenah.

Selain alam, para pelancong lautan akan menjumpai pemandangan baru yang memanjakan mata di dasar perairan Nusa Dua. Pemandangan yang mampu mengendorse penambahan cadangan oksigen di laut, sekaligus menambah daftar tempat berbasah yang wajib ditengok di Bali, "Taman Terumbu Karang Indonesia."

Jangan dibayangkan seperti taman pada lazimnya, ada yang ditanam, bertumbuh kemudian mekar berbunga. Ini berbeda. Yang ditanam di dasar laut adalah sekumpulan patung figurative, dipasang untuk menambah dekorasi, memberikan nuansa anomali dari wujud ekosistem terumbu karang yang selama ini kita kenal.

Iya, bukankah kita para pelancong kerap kali tertarik pada arus yang tidak biasa? Bermula pada kuartal ketiga tahun 2020 lalu, di tengah terpaan ketakutan tularan wabah dan sepinya primadona dunia ini dari pengunjunganya, kami menyaksikan Bali mencoba membangun harapan. Membuat satu karya seni monumental.

Menciptakan warisan budaya bahari masa depan, kurang lebih 750 hasil karya perupa dijejer sedemikian rupa di dasar laut yang landai sekitar 1 hektar di Tanjung Benoa. Layaknya membentuk masyarakat kecil penghuni lautan, patung-patung tersebut membawa ceritanya. Patung penari membawa tariannya dengan lenggok gemulai ritus ketjak lengkap dengan aksesori bunga gonjer dan gelang kananya.

Para gadis berkebaya tampak anggun dengan pusungnya berpadu dengan patung pemuda tampan lengkap dengan udengnya, seolah berbondong menghadiri ritual pakelem memohon keseimbangan alam dan keselamatan dari bencana.

Patung penari diletakkan di atas dudukan beton cor berbentuk lingkaran, yang bagian tengahnya kosong dengan lubang-lubang di dindingnya. Memberi ruang baru bagi ikan untuk keluar masuk bermain di selanya.

Di antara patung-patung itu, berjejer beton pipih dengan permukaan kasar seperti sisik buaya. Ada fragmen karang ditempel di atasnya. Kata pakar terumbu karang, beton nantinya akan tertutup oleh polip hewan berfotositesis tersebut dan setelah tahun terlewat kemudian membentuk satu ekosistem terumbu yang baru.

Seperti ingin menegaskan masa, perupa Bali juga menciptakan komunitas bisu yang mereka beri nama "waspada covid". Wujudnya berupa beberapa pasangan patung laki-laki dan perempuan yang memakai masker.

Sebuah penggambaran yang sangat jelas tentang kebiasaan saat pandemi. Tentunya ini akan menjadi penanda kala sebuah karya. Ketika generasi berganti, karya ini berbicara tentang dirinya, masa di mana dia diciptakan dan kejadian saat itu.

Seolah belum pamungkas, komunitas patung ini diberi penjaga sakti, seekor burung garuda raksasa yang sedang mengepakkan sayapnya dengan gagah. Kokoh berdiri di tengah, seolah menjaga amerta laut dari serbuan para perusak.

Bagi kita, garuda adalah simbol sakral. Sebuah hujah kebajikan, tunggangan sang dewa pemelihara dan lambang negara. Pengunjung akan disuguhi perpaduan karya artistik manusia dan keragaman hayati laut yang tidak menolak intrusi asing dalam lingkungannya.

Patung-patung itu akan menjadi habitat ikan dan terumbu. Penyelam meliuk di antara patung, mengambang di atasnya, bersembunyi di baliknya, bermain dan mengabadikan ritme harmonis sebuah cipta budaya dan penerimaan laut dalam satu kesatuan ekosistem.

Seperti halnya Bali yang begitu bersahaja dan terbuka, jangan kaget saat menyelam dan menjumpai sebuah pahatan patung lengkap dengan atribut penari Bali dengan garis wajah kaukasia, mirip 'Katy Perry,' kata seorang teman. Itu pun kalau karang belum menutupi wajah cantiknya. Selamat menikmati, tentunya setelah pandemi berlalu dan kita semua selamat pada akhirnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar